Santatheresiadepok.sch.id – Paduan Suara Siswa SD Kelas 5 dan 6 Sekolah Santa Theresia Depok (SanTher Children Choir) membuat perayaan misa hari ini (12/4/26) di Gereja Santo Herkulanus Depok lebih hidup, hangat, dan penuh sukacita.

Suara polos dan tulus dari anak-anak mampu menyentuh hati umat serta menghadirkan nuansa kebersamaan yang lebih mendalam dalam perayaan misa.

Bagi anak-anak SD ini, pengalaman bernyanyi koor hari ini, melalui lagu-lagu pujian, mereka belajar mengenal Tuhan, mengungkapkan doa, serta merasakan keterlibatan aktif dalam kehidupan Gereja.

Bagi umat yang hadir, paduan suara anak-anak menghadirkan pengalaman yang menyegarkan. Misa terasa lebih meriah, tidak kaku, dan lebih mudah dihayati, terutama bagi keluarga dan anak-anak lainnya. Hal ini juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap Gereja sejak usia dini.

Oleh karena itu, melibatkan koor anak-anak SD dalam Misa merupakan langkah yang sangat baik untuk membangun iman generasi muda sekaligus memperkaya suasana perayaan liturgi. Dengan bimbingan yang tepat, mereka tidak hanya bernyanyi, tetapi juga menjadi pewarta kasih Tuhan melalui suara dan semangat mereka.

Romo (RD) Agustinus Surianto Himawan, Pastor Paroki Santo Herkulanus Depok, sangat mengapresisi penampilan koor anak-anak SanTher ini, dan berpose bersama anak-anak berikut guru-guru pendamping, usai Misa.

Di dalam kotbahnya, Romo Agus menekankan bahwa hari ini adalah hari Minggu kedua setelah Paskah (Kebangkitan Yesus), yang juga dikenal sebagai Hari Minggu Santo Thomas, dan mengajak umat merenungkan kisah Rasul Thomas dalam Injil.

Rasul Thomas dikenal sebagai murid yang sempat meragukan kebangkitan Yesus. Thomas bahkan berkata bahwa ia tidak akan percaya sebelum melihat dan menyentuh langsung luka-luka Yesus.

Delapan hari setelah kebangkitan, saat para murid berkumpul di ruang tertutup, Yesus hadir di tengah mereka. Ia secara khusus menanggapi keraguan Thomas dengan mempersilahkannya melihat dan menyentuh luka-Nya. Seketika itu juga, tanpa banyak kata, Thomas tersungkur dan mengakui, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Sebuah pernyataan iman yang mendalam dari seseorang yang sebelumnya diliputi keraguan.

Dari pengalaman ini, kata Romo Agus, hendaklah umat belajar bahwa iman tidak selalu lahir dari bukti yang terlihat. Yesus sendiri berkata, berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.

“Rasul Petrus juga menegaskan bahwa kita dapat mengimani Kristus yang bangkit meskipun belum melihat-Nya secara langsung—dan pada waktunya, kita akan mengalami perjumpaan itu.

“Iman adalah tanggapan kita atas Allah yang menyatakan diri-Nya, baik melalui peristiwa hidup, Kitab Suci, maupun ajaran Gereja. Iman sejati tidak bersyarat, melainkan penyerahan diri yang utuh, seperti ungkapan Thomas: “Ya Tuhanku dan Allahku.”

“Dalam perayaan Ekaristi, iman ini dihidupi secara nyata. Saat imam mengangkat hosti dan piala, umat diajak memusatkan hati dan mengimani kehadiran Kristus. Dalam keheningan batin, kita mengulangi pengakuan iman tersebut, seraya memohon agar darah Kristus menyucikan jiwa kita.

“Sejak tahun 2000, Minggu kedua Paskah juga dirayakan sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Perayaan ini menegaskan kasih Allah yang tak terbatas dan kerinduan-Nya untuk mengampuni manusia. Melalui devosi kepada Yesus Sang Kerahiman Ilahi, umat diajak untuk berdoa, terutama pada pukul tiga sore, mengenangkan wafat Kristus di salib.

“Di tengah dunia yang penuh konflik, kekerasan, dan penderitaan—dari korban perang, ketidakadilan, hingga hilangnya penghargaan terhadap martabat manusia—kita semakin membutuhkan kerahiman Allah. Budaya kebencian, dendam, bahkan keputusasaan yang mendorong orang pada tindakan merusak diri, menjadi tantangan nyata zaman ini.

“Karena itu, kita dipanggil untuk datang kepada Yesus, sumber kedamaian sejati. Dalam Dia, kita menemukan perlindungan, pengharapan, dan kekuatan untuk memutus rantai kebencian serta membangun kasih di tengah dunia,” papar Romo Agus.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *